nge-share KEMARAHAN …?!!

Posted: Mei 12, 2011 in Refleksi
Tag:

Apapun jika dibagi, hasilnya akan menguatkan. Hasil korupsi saja jika dibagi-bagi, bisa merepotkan pengadilan. Minimal, di tahanan nanti, seorang koruptor berpeluang memiliki banyak teman. Jika di jalanan Anda terpeleset kulit pisang, bahaya terbesar bukanlah terkilir atau gegar otak, tetapi perasaan malu, lebih-lebih jika Anda sendirian. Tetapi cukup  dengan seorang teman, rasa malu itu bisa Anda salurkan, setidaknya lewat gurauan. Jika aib saja butuh dibagi, pasti begitu pula dengan marah, benci, dan lebih-lebih rezeki.

Tapi intinya adalah sirkulasi. Segala sesuatu harus diedarkan. Informasi yang tidak beredar akan menimbulkan kecurigaan. Ide yang tidak  beredar akan menimbulkan kebingungan. Komunikasi yang tidak beredar akan menyulut pertengkaran. Kekuasaan yang gagal membuat peredaran cuma merangsang pelengseran.

Pada mulanya, tugas peredaran itu memang cuma menyangkut soal-soal yang dianggap mendesak saja. Misalnya kemakmuran. Tetapi  makin maju sebuah peradaban, makin membuat apa saja menjadi penting dan  mendesak. Makmur saja tidak cukup, karena sebuah masyarakat bukanlah peternakan. Makanan hanyalah hiburan bagi perut lapar. Tetapi membuat rakyat kenyang perut saja tidak cukup kalau lapar otak. Kelaparan perut memang berbahaya, tetapi kelaparan otak jauh lebih berbahaya.

Di  sebuah ruang tertutup, kebutuhan manusia yang utama ternyata bukan makanan, tetapi pemandangan. Jika tidak ada pintu, jendela pun jadi. Tak ada jendela, ia akan mengintip dari lubang kunci. Jika lubang kunci pun tak ada, liang semut pun boleh. Jika semut pun tak berliang, manusia akan menempuh apa saja agar bisa  mengintip udara di luaran.

Memang, di hari ini, para diktator yang tumbang itu masih dikaitkan dengan isu-isu kemiskinan. Tetapi dalam waktu dekat, isu itu tak lagi memadai. Jika perut telah dipenuhi, tetapi otak belum, ia akan meminta haknya. Jika otak penuh, tetapi jiwa kosong, dua kenyang yang ada di depan tak akan banyak peran. Jadi, negara yang akan bertahan lama, adalah negara yang sanggup memenuhi tiga lapar sekaligus. Dan ini mustahil di luar demokrasi. Memenuhi perut itu mudah, tetapi memenuhi otak itu sulit. Memenuhi otak itu sulit, tetapi memenuhi  jiwa akan jauh lebih sulit.

Menipu perut itu mudah, karena ia cukup dikenyangkan. Menipu otak itu sulit karena daftar kebutuhan otak begitu panjang. Tetapi memenuhi kebutuhan jiwa pasti yang tersulit karena kebutuhannya nyaris tak terhingga. Jika perut cuma butuh makanan, otak butuh pengetahuan, jiwa butuh kebebasan. Indonesia mulai bergerak maju soal ini walau harus menikmati segenap ujian dan konsekuensi. Kebebasan itu, bisa bebas mengritik dan bisa pula bebas memaki. Tetapi kabar baiknya ialah, makian pun  jadi tidak punya tempat untuk berlama-lama lagi karena begitu marah, begitu disalurkan. Plong!  Dan yang unik dari kebebasan ini ialah, ia menyediakan kontrol oleh dirinya sendiri: mereka bebas mengritik, kita juga bebas menangkis. Jadi seimbang. Di dalam sesuatu yang  seimbang, kenyataan memang tidak selalu menyenangkan, tetapi cuma dengan cara itu kehidupan akan memanjang…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s