TUHAN itu MAHA SUKA-SUKA

Posted: April 20, 2011 in Refleksi
Tag:

Dari catatan-catatan refleksi Anda yang kami punya, tampaknya Anda sangat memahami betul a,b,c nya realitas masyarakat baik masyarakat dalam bentuk hari ini maupun dalam penjelmaaan dihari yang sudah. Apa yang melatar belakangi Anda ?

Saya lahir sebagai orang Jawa. Tapi tergoda betul saya untuk mendiami konteks yang lebih Indonesia. Lepas dari keragaman budayanya, manusia Indonesia sebetulnya berhak menemukan sebuah kedaulatan besarnya sebagai bangsa. Itu dimungkinkan ketika bangsa ini sanggup mengkuratori sejarah. Ada bakat-bakat besar di sana, penemuan besar, local genius, kearifan lokal, dan jika seluruh nilai-nilai itu menjadi pijakan hidup berbangsa, saya tidak membayangkan, betapa luar biasa kekuatan bangsa ini. Comot satu saja, kearifan masyarakat Badui misalnya. ”Jangan memotong yang panjang, dan jangan menyambung yang pendek.” Itu menakjubkan. Cuma karena senang menyambung yang pendek dan memotong yang panjang, Indonesia banyak sekali kehilangan nilai-nilainya sebagai bangsa. Ada banyak posisi yang diisi orang yang salah. Yang pendek di paksa memanjang. Ada kependekan yang salah tempat. Ada penjarahan yang diatas namakan kebijakan dan sebagainya. Tapi masa lalu Indonesia tidak seluruhnya berisi catatan kelam. Maka membayangkan Indonesia ke depan, juga harus dengan perasaan lebih gembira, jika titik tolaknya adalah nilai-nilai terbaik kita.
Anda melihat keunikan di dua jenis masyarakat diatas? Bisa Anda jelaskan?

Masyarakat Indonesia hari ini, adalah masyarakat yang terbelah. Terbelah oleh masa lalu yang penuh benalu di satu sisi, dan masyarakat pewaris kearifan masa lampau di sisi yang lain. Siapa yang lebih besar dari keduanya? Saya tidak tahu. Tetapi saya mempercayai tesis Al Ghazali: jika kehidupan sosial masih berjalan, betapapun rendah mutunya, itu bukti bahwa di dalamnya masih dihuni oleh lebih banyak orang baik. Karena ketika kejahatan jauh lebih besar jumlahnya, kehidupan akan macet. Jadi, dasar pemikiran ini membuat saya optimistik. Orang baik masih jauh lebih banyak kita miliki. Korupsi di Indonesia memang besar sekali. Tetapi itu cuma karena koruptor yang ”sedikit” itu, keterlaluan sekali. Tetapi jika nyaris separo dari bangsa ini saja adalah koruptor, habis sudah riwayat kita. Nyatanya tidak! Kita masih banyak memiliki jauh lebih banyak orang baik tetapi barangkali kekurangan pengikat yang baik.[pagebreak]
Konon, setiap orang memerlukan ruang pribadi, personal space, sebagai syarat yang penting untuk kesehatan mentalnya. Mungkinkah itu dimiliki mengingat tingkat kepadatan penduduk bangsa kita, terutama di kota-kota besar Indonesia, yang semakin membengkak ini?
Kesehatan fisik dan mental manusia, amat ditentukan oleh kesehatan tata ruangnya. Kota boleh menjadi padat, tetapi tidak harus bahwa yang padat itu pasti tidak sehat. Jalan raya boleh ramai, tapi tidak berarti yang ramai itu harus ruwet. Ancaman tata ruang sebetulnya bukan pada kepadatan atau kelonggaran, tetapi penghayatan kita yang keliru kepada ruang. Tak berarti yang longgar itu sehat, dan yang padat itu sakit. Orang desa yang sehari-hari ada di tengah keluasan sawah juga bisa beringas memukuli anak dan istrinya. Ada manusia kota yang berjubelan di rumah-rumah bedeng, malah bisa tertawa-tawa begitu lepasnya.
Bukankah kepadatan penduduk akan membuat orang lupa untuk tertawa?

Kepadatan memang beresiko. Tetapi di mata hukum, resiko adalah sesuatu yang terukur. Di mata manajeman, yang banyak dan sedikit sama saja. Di mata filsafat kemarin dan esok adalah hari. Di mata spritualis, bencana dan keberuntungan sama saja. Jadi pokoknya adalah, apakah negara memiliki manajemen risiko yang baik terhadap sebuah perkembangan.
Untuk menjawab berbagai problem sosial, masyarakat kita membentuk komunitas-komunitas kecil yang baru yang masing-masing anggotanya memiliki identitas sendiri dan dapat menjadi wadah untuk partisipasi inisiatif dan tanggungjawab local, mungkinkah?

Penting sekali membentuk inisiatif-inisiatif masyarakat, apapun caranya. Karena kemiskinan yang paling berbahaya adalah kemiskinan inisiatif. Luar biasa peran inisiatif ini bagi kemakmuran sebuah bangsa. Di Bangladesh, cuma karena inisiatif seorang Muhammad Yunus, tiba-tiba dunia mengenal bank orang miskin, Grameen Bank. Di Peru ada Hernando de Soto yang merangkul kemiskinan ke dalam sistem negara.
Mutu manusia amat ditentukan oleh mutu persepsinya. Persepsi itulah akar dalam memberi pemaknaaan. Semakin dalam segala sesuatu dimaknai, semakin dalam pula nilai-nilainya. Saya pernah nyaris diserempet mobil. Dan di Indonesia kelakuan semacam itu tak perlu dibuat kaget karena saking banyaknya. Tetapi ketika penyerempet itu saya maknai sebagai suami yang sedang panik karena istrinya hendak melahirkan, kemarahan saya selesai di tingkat ini.
Bukankah pembicaraan tentang harmoni atau keserasian, sedang masyarakat kita yang sudah terjebak dalam faham materialisme global?

Memahami harmoni cuma secara intelektual, akan juga cuma menghasilkan harmoni intelektual. Harmonis semacam itu amat berharga, tetapi bukan yang paling berharga. Itulah kenapa Al Capone bisa menonton opera sambil menangis haru, sehabis ia memukul kepala teman bisnsinya dengan tongkat baseball sampai mati. Antara yang artistik dan yang sarkastik di dalam diri orang ini, masih gaduh bertumbukan. Seorang juragan bisa saja terhanyut mendengar musik klasik, tetapi sekaligus juragan yang bakhil membayar keringat karyawan. Itulah harmoni intelektual. Dengan harmoni spiritual, paradoks itu akan dijinakkan.
Page 3 of 3
Dalam Islam misalnya, prinsip tidak membenarkan sikap yang berlebihan Dibenarkan membunuh hewan, tidak untuk sewenang-wenang membunuh, tetapi untuk kebutuhan hidup manusia belaka. Bagaimana pendapat Anda ?

Jalan tengah, itu konsep Islam yang tak terbantahkan. Itulah pemahaman Islam yang amat menyeluruh menyangkut soal harmoni,. Sebaik-baiknya perkara adalah yang ada di tengah, ini sabda Rasulullah yang menakjubkan saya. Islam adalah jalan tengah. Dan kearifan mengambil sisi tengah ini sungguh akan membuat derajat manusia mulia sekali. Derajat hukum adil sekali, dan derajat ekonomi akan produktif sekali.
Bagi seorang Jawa tradisonal, rasa menyatu dan berserasi dengan alam adalah hal yang biasa. Dia menyadari bahwa dia dapat menarik manfaat dan dapat melindungi diri dari alam sejauh dia dapat menyesuaikan diri pada irama dan kodrat alam Bagaimana terjemah filosofi diatas dalam konteks kekinian dan kedisinian menurut anda?

Kesepian tidak harus bertempat di rimba raya. Kesepian ada di mana-mana. Itulah ada keramaian yang sepi dan ada kesepian yang ramai. Menjadi kota atau menjadi desa, seseorang tetap bisa setiap kali mengakses sepi dan keramaian kapan dia mau. Persoalannya ialah, apakah kemampuan mengakses itu telah kita miliki.
Jawaban Anda sangat sufistik sekali?

Hehehe… saya ini memang sufi, sepanjang sufi itu bukan kemewahan. Karena menurut saya, siapa saja yang merindukan kebaikan, dia ini telah menjadi sufistik. Saya jelas perindu kebaikan, meskipun saya belum menjadi orang baik seperti yang saya harapkan. Saya tak malu kalau cuma dianggap sebagai orang yang ingin menjadi baik!
Sejak kapan Anda mengenal kata “tasawuf” atau dunia sufi?

Saya beruntung sering jatuh cinta di usia yang amat dini. Maka saya mengenal patah hati juga sejak amat dini. Sejak SMP saya sudah biasa patah hati. Setiap patah hati, saya sedih sekali. Setiap sedih sekali, hanya Tuhan yang menemani. Maka saya jadi seperti ketagihan bersedih hahaha….!
Jika sudah disepakati bahwa sufi itu bukan kemewahan, tak keberatan saya disebut sebagai sufi. Sama halnya tak keberatan saya disebut sebagai dermawan, orang baik, anak pintar, suami bertanggungjawab, wartawan yang serius, kartunis yang lucu dsb. Bintang saya Aquaris, maka senang sekali ketika seorang astrolog menyebut bintang ini sebagai manusia artistik. Lepas apakah semua itu bohong, saya tidak peduli. Saya harus percaya bahwa saya baik, artitisk, dermawan, sufi, lucu, baik hati, bertanggungjawab dan seterusnya. Apa tujuannya, agar saya malu, jika saya tidak sanggup menjadi semua itu! Hahaha….[pagebreak]
Pada “Doa Salah Jurusan” Anda mengatakan: “……Tetapi jika doa murahan semacam itupun dikabulkan Tuhan, berarti ada jenis sifat Tuhan yang harus ditambahkan, yakni Maha Suka-Suka. Mau mengabulkan doa, mau tidak mengabulkan doa, suka-suka Tuhan saja. Bagaimana ini?
Ya, yaa.. dalam berdoa saya suka memakai setidaknya dua cara. Cara ketika saya sedang malu, dan ketika saya sedang menghamba dan mengadu. Ketika saya sedang malu, saya berdoa dengan cara tidak berdoa sama sekali. Malu saya kepada Tuhan. Kurang apa coba pemberian yang saya terima. Tidak usah meminta saja sudah diberi begini banyaknya. Tetapi ketika saya sedang menghamba, saya menyukai cara Syekh Abdul Qadir Jaelani. Beliau masih memelihara doa dan meminta, cuma karena penegasan posisinya sebagai hamba. Dua cara ini, bagi saya sama indahnya. Saya seperti sedang berpoligami, tetapi kedua istri saya rukun dan saling mecintai. Double impact!
Tidak sedikit saudara-saudara kita yang memandang doa tak ubahnya sebagai mantera magis untuk mengendalikan alam semesta. Tuhan dilihat sebagai kekuatan gaib yang harus tunduk kepada kemauan mereka. Nah, dalam antropologi budaya, sejak kapan sesungguhnya “sometsing wrong” itu terjadi ?

Hahaha… ini menyangkut hitung dagang setengah matang saja. Pedagang-pedagang yang belum menjadi sufi, ia sekadar menghitung benda-benda. Saya ingin sekali menjadi pedagang, dengan kemampuan menghitung apa yang tidak bisa kita hitung lagi. Pedagang semacam ini pasti indah sekali, karena tak perlu menghitung-hitung lagi. Dan orang seperti ini biasanya malah kayaaaaaaa sekali!

Ini bukti manusia moderen sudah kehilangan kontak de-ngan Tuhan ?
Matematika itu cuma bagian dari ilmu Tuhan untuk kepentingan yang sesungguhnya remeh-temeh, misalnya cuma demi agar manusia mudah menjalankan syariatnya. Tuhan sendiri pasti jauh berada di luar rumus matematik itu. Maka mendekati Tuhan dengan rumus matematika, pasti sebuah kesalahpahaman. Salah paham bahwa karet gelang bisa untuk mengikat alam raya. Bahwa setetes air sanggup mencemarkan samudera.
Dr. Alexis Carrel, pemenang hadiah Nobel untuk bidang biologi, mengatakan bahwa salah satu bencana manusia moderen adalah hilangnya peluang untuk beribadat. Komentar anda?
Terang dan gelap sama bahayanya jika keterlaluan. Kepintaran dan kebodohan sama bahayanya jika telah menjadi ekstrem. Itulah yang diisyaratkan oleh Sayidina Ali sejak mula. Pribadi yang luar biasa ini amat takut kepada dua jenis golongan manusia: yang amat membencinya dan yang amat memujanya. Keduanya biang kehancuran.
Saya jadi teringat pandangan lain dari Ibnu ‘Atha’ illah tentang doa yang mengatakan, “engkau meminta dari Allah berarti engkau menuduh-Nya. Engkau meminta kepada-Nya berarti engkau mengumpat-Nya. Engkau meminta kepada selain-Nya berarti engkau tak memiliki rasa malu kepada-Nya. Dan engkau meminta dari selain-Nya berarti engkau jauh dari-Nya,” Menurut anda?

Tuhan memang Maha Suka-Suka. Maka sedang berdosa maupun sedang berpahala kekuatan manusia sebetulnya cuma menyerah belaka. Itulah kenapa penyerahan diri itu, mencerminkan pencapaian manusia yang sesungguhnya. Tuhan amat tidak tega pada orang-orang yang sudah menyerah!
Modernitas itu seharusnya menggairahkan, karena ia adalah jalan tol yang bagus sekali untuk mencapai tujuan. Tetapi kecepatan dan kelancarannya itulah sekaligus bahayanya. Karena betapa banyak orang mati di jalan tol justru karena sebuah kelancaran. Tabrakan di jalan tol selalu lebih mengerikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s