Ketika Saya Jadi Pemimpin

Posted: April 20, 2011 in Refleksi
Tag:

Menjadi orang yang dipimpin saya pernah, menjadi pemimpin saya juga pernah. Menjadi atasan pernah, menjadi bawahan pernah. Rasanya sama saja. Perpindahan posisi pekerjaan itu sama saja sepanjang saya sendiri tidak berpindah posisi kejiwaan. Menjadi bawahan saya stres, menjadi atasan saya juga stres. Menjadi bawahan saya ditekan, menjadi atasan saya menekan. Itulah ketika posisi saya pindah, tetapi perilaku saya tidak berpindah.

Tetapi ketika posisi kejiwaan saya berpindah, posisi pekerjaan saya itu malah menetap. Menjadi bawahan saya  gembira, menjadi atasan saya juga gembira. Menjadi bawahan saya tidak  tertekan, menjadi atasan saya tidak menekan. Saya masih ingat suasana kejiwaan saya ketika menjadi bawahan yang tertekan. Setelah  saya teliti, tekanan itu bukan karena saya ditekan, tetapi saya sendirilah yang tertekan.

Bagi seorang bawahan, apa saja cenderung akan menjadi tekanan. Karena apa? Karena letak saya yang di bawah. Semua yang di atas akhirnya ke bawah. Itulah konsekuensi berada di bawah. Maka ketika saya memahami tekanan itu sebagai konsekuensi, pelan-pelan kekuatan saya bertambah. Makin kuat saya, makin merasa bahwa seluruh konsekuensi sebagai bawahan itu saya anggap sebagai kewajaran.

Kemudian segala sesuatunya terasa sebagai wajar. Jadi wajar  pula, sebelum saya ditekan-tekan, saya malah sudah  menekan-nekan diri karena sadar kedudukan sebagai bawahan. Jika seseorang kebingungan mencari kertas, saya bergegas mengambil untuknya. Jika seseorang butuh mencari arsip yang terbuang di tempat sampah, saya harus menjadi orang pertama yang siaga. Bahkan jika ada atasan gatal punggung dan butuh garukan,  secara refleks, saya tergerak untuk menggaruknya. Itulah refleks bawahan yang membuat saya gembira.

Sudah  tentu, kegembiraan semacam itu tidak serta-merta. Butuh ujian, butuh kuat menanggung derita. Karena letak saya yang di bawah, semua orang jadi memandang saya sebagai atasan. Ini menyakitkan. Tetapi ini kesakitan wajib. Ini semacam mandatory fight bagi juara bertahan. Pertarungan yang bisa jadi tidak kita sukai, tetapi harus dijalankan.  Kepada diri sendiri saya menetapkan sejumlah keharusan. Penderitaaan, ketika sudah  menjadi keharusan, akan memunculkan keberanian. Inilah sumber seorang kekuatan bawahan.

Lalu apa sumber kekuaan atasan? Sama saja. Kewajaran. Karena tempat saya di atas, semua orang jadi tergerak melihat ke atas, bahkan termasuk pihak yang tidak suka. Tetapi kekuatan saat menjadi bawahan itu terbawa dengan baik ketika saya menjadi atasan. Rasa bawahan dan rasa atasan itu sama saja, harus berisi kewajaran.

Maka kepada seluruh pandangan ke atas itu  saya terima dengan gembira, bukan karena saya gila kehormatan, tetapi gembira atas   sebuah kewajaran. Sama wajarnya ketika saya sedang diperintah-perintah  sebagai bawahan. Hal-hal yang wajar harus disambut dengan gembira. Yang berbahaya adalah soal-soal yang tidak wajar: ketika menjadi atasan mengusung rasa bawahan, ketika menjadi bawahan mengusung rasa atasan. Ini pasti sumber persoalan.

Karenanya, seluruh soal yang menyangkut kewajiban atasan harus pula diambut sebagai kewajaran termasuk bahkan ketika harus memecat bawahan. Yang tidak wajar justru ketika ada karyawan layak pecat tetapi tidak dipecat. Ini hanya akan menernak hama di sekujur perusahaan. Tetapi memecat bawahan cuma demi unjuk kekuasaan dan menunjukkan bahwa saya adalah  seorang atasan, pasti bukan kewajaran. Ketika menjadi atasan, saya mengambil seluruh kewajaran itu dengan gembira sepanjang diperlukan, termasuk bercanda dan mentraktir bawahan. Gaji saya lebih banyak dari mereka, tidak wajar kalau saya kikir kepada mereka

Bahkan menraktir pun bukan bagian dari superirots, melainkan sekadar kewajaran. Pertemuan bawahan yang wajar dan atasan yang wajar, itulah yang akan melahirkan iklim kepemimpinan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s