GOLONGAN Kena Tipu

Posted: April 20, 2011 in Figh
1. Golongan Ulama
a. Ulama yang mendalami ilmu syariah dan logika, lalu sibuk dengannya. Mereka mengira bahwa ilmu tersebut mengoreksi dan menjaga anggota badannya dari maksiat, padahal ia telah menipunya. Mereka menduga bahwa mereka akan mendapatkan tempat disisi Allah dan telah mencapai ilmu yang sebenarnya, Allah tidak akan menyiksanya, bahkan Allah akan menerima syafaatnya pada setiap makhluk. Mereka tertipu, seandainya mereka tahu bahwa ilmu itu ada dua macam :
  • Ilmu mu`amalah yaitu ilmu tentang halal haram sera mengetahui akhlaq hati yang tercela dan terpuji
  • Ilmu mukasyafah yaitu ilmu tentang Allah dan sifat-sifatnya
Perumpamaan mereka adalah seperti dokter yang dapat mengobati orang lain, sementara dirinya sendiri apabila sakit ia tidak dapat mengobati. Apakah obat itu dapat bermanfaat hanya dengan di ungkapkan? Tentu saja tidak bermanfaat kecuali jika diminum setelah melalui tindakan prefentif. Mereka lupa terhadap firman Allah :
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang-orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams:9-10).
Allah tidak mengatakan beruntung orang yang menulis dan mengetahui cara penyajian ilmunya serta mengajarkannya pada manusia. Tidaklah mereka tahu sabda Nabi Saw :
“Barangsiapa bertambah ilmunya, tetapi tidak bertambah hidayahnya, maka hal itu hanya akan menambah jauh dari Allah.”
Juga sabdanya :
“Manusia yang paling berat siksanya pada hari kiamat adalah orang alim yang ilmunya tidak bermanfaat.”
Mereka adalah orang-orang yang tertipu. Mereka dikuasai oleh cinta dunia, cinta diri dan mencari kesenangan sesaat serta mengira bahwa ilmunya dapat menyelamatkannya diakhirat kelak tanpa amal.
b. Mereka yang kuat ilmu dan amal lahiriahnya. Mereka meninggalkan maksiat lahir tetapi lalai terhadap maksiat hatinya, sehingga amaliah lahirnya tidak pernah menghapus sifat-sifat tercelanya, seperti riya`, sombong, hasud terhadap orang lain, ambisi terhadap kedudukan, berbuat jahat kepada orang lain dan mencari popularitas.
Mereka lupa terhadap sabda Nabi Saw :
“Riya` adalah syirik kecil dan hasud itu dapat membakar kebaikan seperti api memakan habis kayu bakar.”
Cinta kekayaan dan kehormatan akan menumbuhkan kemunafikan dalam hati, seperti air menumbuhkan sayuran.
Mereka lupakan firman Allah :
“Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu`ara:89).
Orang yang lalai terhadap hatinya, tidak sah ketaatannya. Ia seperti seorang pasien yang terkena penyakit kudis. Dokter memerintahkannya memakai salep dan minum obat, tetapi ia hanya sibuk dengan memberi salep tanpa minum obat. Mungkin hal-hal lahir akan sembuh, tetapi hal-hal batin tetap menggejala, karena ia tidak minum obat yang merupakan obat batin baginya. Suatu saat penyakit itu akan kambuh kembali, bahkan semakin parah.
c. Mereka mengetahui akhlaq bathin, mengetahui bahwa ujub adalah tercela menurut syara`. Mereka menduga bahwa mereka akan lepas darinya dan tidak akan ditimpa hal semacam itu, sebab sifat itu termasuk hal-hal yang menimpa orang-orang kebanyakan, bukan kalangan ulama, sehingga bayangan-bayangan kesombongan, ambisi dan hormat tampak pada dirinya.
Ketertipuan mereka berawal dari anggapan baginya kemulian agama dengan pakaian yang tinggi dan menduga bahwa ia mencari kemulian ilmu dan kehormatan agama, sementara lisan mereka tetap melepaskan hasutan terhadap orang lain atau orang yang membantah ucapannya. Mereka tidak sadar bahwa  hal itu adalah hasutan, bahkan berkata bahwa kemarahannya, semata-mata karena perkara haq dan dimaksudkan untuk menolak kebatilan dan kedzaliman. Begitulah ketertipuan mereka. Seandainya terdapat seorang dari kalangan ulama yang tidak terlibat sebagaimana amaliah mereka, mungkin mereka tidak akan marah, sebaliknya mereka akan senang. Juga ketika menampakkan kemarahannya dihadapan masyarakat, boleh jadi hatinya menyukainya dengan berkata, “maksudku untuk memberi pengertian kepada umat,” padahal hatinya riya`. Karena bila tujuannya untuk memperbaiki makhluk pasti ia akan menyukai bila hal serupa dilakukan oleh orang lain yang setaraf dengannya, diatas atau lebih rendah darinya.
Boleh jadi ia mendekati para penguasa, menyukai mereka dan memujinya. Bila ditanyakan kepadanya, ia berkata, ” Tujuanku untuk menolong kamum muslimin dan menghindari bahaya. Ia tertipu, sebab sendainya tujuan tersebut tidak dilakukan orang lain, ia akan senang. Sebaliknya, apabila terdapat orang yang ilmunya sepadan dan membantunya di hadapan penguasa, ia akan marah.
Boleh jadi ia mengambil atau mendapatkan harta dari para penguasa, dan apabila muncul dalam kesadarannya bahwa uang itu haram, setan berbisik kepadanya, “harta itu tiada pemiliknya. Ia untuk kemaslahatan kaum muslimin dan anda adalah pemimpinnya.” Pada kasus ini terdapat tiga godaan pada sendi-sendi agama:
  • Harta tanpa pemilik
  • Untuk kemaslahatan kaum muslimin
  • Imam (pemimpin)
Tiada imam kecuali orang yang berpaling dari keduniawian, seperti para nabi, sahabat, dan ulama-ulama yang mulia. Demikian ini seperti yang dikatakan Nabi Isa :
Orang alim yang jahat laksana batu besar yang jatuh didalam mulut lembah, dia tidak dapat menghisap air, juga tidak dapat membiarkan air terlepas ketanaman.”
Banyak sekali tipuan yang terjadi pada golongan ulama, apa yang mereka rusak lebih banyak daripada yang mereka perbaiki.
d. Suatu kelompok yang tinggi ilmunya, mensucikan anggota badannya, menampilkan ketaatannya dan menjauhi kemaksiatan lahir, meneliti sifat-sifat hati, mulai dari riya`, hasut, sombong, dengki, sampai mencari kehormatan. Sebisa mungkin mereka melepaskan diri darinya, tetapi masih tertipu karena dalam hati mereka masih ada sisa persembunyian tipu daya setan, bujukan-bujukan nafsu yang sangat lembut dan sulit dipantau, serta diluar kesadaran mereka.
Perumpamaan mereka adalah laksana orang yang ingin membersihkan tanaman dari rumput, memilahnya, lalu mencabutnya. Namun masih ada sisa akar yang tertinggal di dalam tanah. Mereka mengira bahwa semuanya telah dikeluarkan. Kemudian pangkal tersebut muncul lagi dan merusak tanaman. Sebenarnya mereka bisa merubah keadaan tadi, tetapi karena boleh jadi mereka tidak berbaur dengan masyarakat, karena kesombongannya atau memandang orang lain lebih rendah dari mereka, atau sibuk dengan memperbaiki aktifitas-aktifitas lahir (penampilan) agar tidak dipandang rendah. Maka akibatnya, mereka lupa tentang apa yang menjadi tujuan utamanya.
e. Mereka meninggalkan beberapa ilmu yang penting dan mencukupkan pada ilmu fatwa dalam pemerintahan dan pembekalan, rincian-rincian muamalah duniawiyah yang berlangsung diantara makhluk hidup, demi kemashlahatan kehidupan. Mengkhususkan diri sebagai “ahli fiqih”, dan mereka menamakan ilmunya sebagai ilmu fiqih dan ilmu madzhab. Boleh jadi mereka menyia-nyiakan ilmu amal dzikir dan batin mereka tidak mengontrol anggota badannya. Tidak menjaga lisan, perut dari makan haram, kaki dari mendekat penguasa. Begitu juga seluruh anggota badan, tidak menjaga hatinya dari sombong, riya` dan sifat-sifat merusak  yang lain.
Mereka tertipu dalam dua sisi :
  • Pertama, dari segi ilmu pengobatan, telah kami sebutkan dalam kitab Ihya`. Perumpamaan mereka adalah seperti seorang yang sakit , ia mempelajari seluk-beluk obat tetapi tidak mengikuti anjuran pemakaian dan tidak melaksanakannya. mereka rentan terhadap kehancuran, karena tidak membersihkan jiwanya. Mereka sibuk dengan misalnya masalah haid, diyat, li`an dan sebagainya. Mereka menghabiskan umurnya pada hal-hal semacam itu. Mereka tertipu dengan pengagungan masyarakat kepadanya.
  • Kedua, dari segi ilmu, yakni karena dugaan mereka bahwa pengantar dan penyelamat manusia adalah melalui mencintai Allah. Mencintai Allah hanya dapat dicapai dengan ma`rifat kepada-Nya. Ma`rifat disini ada tiga macam :
    • Ma`rifat pada Dzat
    • Ma`rifat pada Sifat
    • Ma`rifat pada perbuatan-Nya
Mereka ibaratnya seorang yang hanya mencukupkan diri dengan bekal-bekal perjalanan haji. Mereka tidak tahu bahwa fiqih adalah juga mencakup mengerti tentang Allah, mengetahui sifat-sifat-Nya yang menakutkan, sehingga kalbu tetap merasakan takut dan senantiasa bertaqwa kepada-Nya. Seperti firman Allah Swt :
“Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka dapat menjaga dirinya”. (QS. At-Taubah:122).
Diantara mereka ada yang berkutat pada persoalan khilafiah fiqhiyah dan hanya meperhatikan cara atau metode berdebat yang dapat mematikan lawan dengan menolak kebenaran yang ada dan semata-mata untuk kemenangan pendapatnya. Mereka tidak menginginkan ilmu, tetapi untuk menandingi lawan. Seandai mereka menyibukkan diri dengan membersihkan hatinya, tentu hal itu lebih baik daripada ilmu yang tidak bermanfaat, ilmu-ilmu yang berorientasi pada masalah dunia dan kesombongan. Demikian itu di akhirat berubah menjadi api yang membara.
Adapun dalil-dalil tentang madzhab telah disampaikan dalam kitab Allah, melalui lisan para Rasul-Nya. Betapa buruknya ketertipuan mereka.
f. Kelompok yang menyibukkan diri dengan ilmu kalam dengan spesialisasi ilmu yang membahas tentang perdebatan dan cara membantah lawan, meneliti perkembangan, memperbanyak ilmu tentang pendapat-pendapat yang berbeda-beda.
Mereka hanya sibuk dengan mengajarkan metode berdiskusi dan mematahkan lawan. Mereka terbagi dalam dua golongan :
  • Golongan sesat dan menyesatkan
  • Golongan yang benar
Adapun ketertipuan golongan yang sesat adalah kelalaian mereka tentang kesesatan yang menimpa mereka dan mereka mengira sebagai golongan yang selamat. Mereka terdiri dari berbagai kelompok yang saling mengkafirkan. Mereka tersesat karena mereka tidak memiliki syarat-syarat dalil dan metode yang memadai sehingga melihat syubhat sebagai dalil dan dalil sebagai syubhat.
Sementara ketertipuan kelompok yang benar adalah masalah terpenting dalam agama Allah. Mereka menduga bahwa keagamaan seseorang tidak sempurna sebelum dibahas (diperdebatkan) dan orang yang mempercayai Allah tanpa pembahasan dan dalil, belum sempurna imannya dan jauh dari sisi Allah. Mereka tidak melihat pada periode awal  permulaan islam, dimana Nabi Saw telah memberikan kesaksian atas mereka bahwa mereka adalah sebaik-baiknya makhluk dan Nabi tidak menuntut dalil atau lainnya.
Dalam hadits riwayat Abu Umarah Al-Bahili, Nabi Saw bersabda : “Suatu kaum tidak akan tersesat selamanya, kecuali orang-orang yang suka berdebat.”

—————————————–
Sumber : Menuju Labuhan Akhirat – Al Ghazali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s