Maksiat Yuuk….

Posted: April 16, 2011 in Refleksi dua

Hari ini pagi yang indah. Surya pagi mulai mencipratkan hangat pada bumi. Lukisan langit menggambarkan kelakuan makhluk yang bernama manusia, dimana pagi ini bisa secerah cerminan surga, tapi sore atau siang pun, bisa saja berubah sewaktu-waktu angkasa menjadi berduka dengan gelapnya.

Ini persis waktu malam tadi saat ku tak bisa pejamkan mata untuk mati sejenak, banyak pikiran di otak ku, salah satunya juga tentang ini, kenapa manusia ada yang takut mati, padahal tiap malamnya dia berhasrat sekali mapan dengan nyaman di kasur empuknya dengan pose uniknya ciri khas masing-masing, dalam menyambut mati, dan menyambut pagi.

Tapi bukan itu yang membuat ku melotot semalam. Meski sinar uv ikut menyelimuti tubuhku, meski mataku masih melambai-lambai, perasaan ku malah seperti hangatnya jika dede dari pagi sampai nanti jam tiga siang, alias merah membara bau gosong.

Aku marah!

Tapi tak berani ku sampaikan amarah ku ini pada siapa. Betapa pengecutnya ku ini.

Semalam ku dengar berita, benar-benar ‘reality show’ adanya. Jadi begini ceritanya, ketika ku diundang main ke tetangga, entah dimulai dari apa, hingga ibu paruh baya itu bertutur padaku, “mas ustad, njenengan kan sering dateng ke mesjid gedhe tow, sampun preso belum kabar pak Lebah (nama disamarkan)?

Ya, seonggok mesjid dekat alun-alun yang tua tapi masih cantik dengan gincunya. Memang dulu ku sering main ke sana, tapi kini setelah mudik lagi ku hanya sesekali mampir. Ku pindah ke lain hati, nyari agak jauhan gak masalah, yang penting benar-benar ke sebuah mesjid, bukannya ke tempat sholat iya, tapi tempat mayat juga iya. Saat menginjakkan kaki pertama sejak kembali ke desa ini, ada sesuatu yang buatku kaget. Ternyata bukan karena polesan make-up nya, melainkan karena arah kiblatnya yang bergeser miring cukupan derajatnya. Pantas saja, ku kira ku yang jadi pembingung sekarang. Lalu, kemana aja mereka, sampai baru memiringkan shof sekarang, paling tidak hidup 20 tahunan ku, baru digeser. Baru sempat mungkin, pikirku, atawa yang jelas baru mumpung ada uang buat serong kanan.

nuwunsewu, lha ada apa dengan beliau? Sehat-sehat aja kan?” Tanya ku setelah selesai nyruput kopi panas buatan ibu tadi.

oalah mas, amit-amit.. wong edan kae!” suara ibu itu jengkel, sampai-sampai ku tak jadi ambil gorengan yang disuguhkan padaku, saking ngototnya ibu tadi, hingga ku pikir sang ibu menyindir ku seakan-akan bilang ‘jangan ambil gorengan ku’, tapi itu jelas perasaanku saja.

Kaget dan makin penasaran dengan keadaan pak Lebah, ku diam mengharapkan ibu tadi melanjutkannya kisah beliau sebelum ku menanyakannya.

Ibu itu dikenal ceplas-ceplos ngomong seadanya, tapi perlu dihargai juga wataknya, ya maklum lah toh kini banyak makhluk bernama manusia, kembali seperti balita lagi, berani ngomong cuma meniru omongan atasannya, kalo pun bicara inisiatip sendiri juga tak jelas kemana arah lidahnya. Bahkan, ngomong yang aslinya gak ada, bisa jadi diada-adain.

mas ustad, maaf nggih, ngapunten. Pak Lebah itu kan ‘kuncen’ mesjid gedhe, mosok iya berani kurang ajar ngelakuin ginian (sambil ngasih kode tangan, jempol yang sembunyi diantara telunjuk dan jari tengah), di dalem mesjid pula!

masya Alloh” sambut rekan-rekan disebelahku. Saat ku lirik mereka, ada beberapa yang sambil senyum tertahan, tapi ada juga yang lepas, mungkin dia merasa lucu dengan kode tangan ibu tadi pikirku, tapi entahlah.

Meski ku masih tetap terdiam, ibu itu tetap meneruskan ceritanya sambil menatapku, ya tentu saja karena dari awal pun sang ibu dengan sengaja mendongeng spesial untukku.

jadi, malem-malem pak Lebah, bawa cewek, katanya sih cewek rumah sakit sebelah (maksudnya mungkin pegawai di RS), namanya Bunga (masih nama samaran). Mereka zina di pojok depan, dalam mesjid, pas di sebelah ‘bedhug’, kok ya berani gak takut dosa apa. Lha kalo di tempat lain sih mending, ini di rumah Alloh e,stad!

Hati kecilku berbisik, loh kok ‘mending’?! kritik ku pada ibu itu.

Rekan ku kembali bertanya, bak kuis di tivi yang saling berebut, “lha kan ada satpam?” bersamaan dengan tanya “di pojokan itu bu?”,“ketauannya gimana bu?”, sedang rekan yang lain pun masih aktif memperhatikan, tak peduli kopi sudah dilumuri dinginnya malam dan gorengan yang menawarkan diri pun dicuekin begitu saja, sama juga seperti ku yang menunggu respon ibu paruh baya itu.

lha kan ‘kuncen’ ya sudah paham celahnya, kapan satpam pas tledor atau gimana, dan sikon sekitar. Nah kok bejo ada yang lewat, santri mesjid itu mergokinya. Kudune langsung woro-woro biar diarak sekalian nggih to mas, biar kapok, lha kurang ajar banget e!” ibu itu menutup kisah nyatanya, karena cucu tercinta keburu memanggil dengan tangis manjanya, isyaratkan ‘sudah mbah,cukup’, itu pun tentu setelah ku terjemahkan sendiri bahasa tangisan bayi mungil itu.

Rekan-rekanku pun mulai berdiskusi sendiri-sendiri, juga seperti suara lebah sungguhan, hanya ku seorang yang memberanikan diri untuk meneguk kopi dingin ini, sebagai pelampiasan dahaga karena kisah tadi, sampai hanya tersisa bubuk hitam pahit yang nantinya ku kembalikan lagi pada ibu itu.

Lalu rekan ku memberanikan tanya “bib, apa tadi termasuk ghibah?

Sebelum ku memperdulikan tanyanya, karena kasihan dengan gorengan yang sudah dari tadi menjajakan diri itu, maka ku ladeni dulu dengan mengambil sepotong tahu petis kesukaanku. Setelah satu suapan ku terpuaskan mencicipinya, tanpa melihat ke wajah rekanku tadi, ku bilang “karena ku ikut ndengerin ini insya Alloh bukan ghibah, kecuali kalo ku nggak ikut…” sambil tersenyum, ku teruskan habiskan santapanku.

Rekan ku itu pun menyambut senyumku yang berarti paham betul maksud ku sepenuhnya. Sambil memegang gelasnya dia menoleh padaku lagi, berucap “bib, hikmah opo yang bisa diambil untuk ku?

Kali ini ku melihat ke wajahnya, dan dia tak jadi minum kopi pahitnya yang ia rekues tanpa gula itu, lalu ku jawab pintanya “kalau mau maksiat, jangan sampai ketahuan!

Kerutan di keningnya membuatku puas, sengaja ku tunggu tanggapannya lagi, lalu dengan cepat dia bertanya singkat “maksudnya?”, sambil meletakkan kembali minuman favoritnya yang belum sempat membasahi lidahnya itu.

tadi sore denger gak, maksiat itu boleh dengan syarat empat;

1. Jangan gunakan nikmat dari Alloh, untuk maksiat. Jadi, silahkan aja bermaksiat-ria, tapi jangan pernah pakai seluruh nikmat Alloh, seperti mata, tangan, kaki, pokoknya semuanya… karena gak pantas, nikmat kok dibales maksiat!

2. Boleh maksiat, asal Alloh nggak liat. Jadi, cari tempat deh senyaman mungkin untuk maksiat, selama tempat itu tidak di bumi Alloh, dan silahkan keluar dari kolong langit Alloh serta cari tuhan lain!

3. Selama bisa nego dengan malaikat pencabut nyawa. Jadi, pinter-pinter ngerayu malaikat, biar nggak diambil nyawanya pas lagi berbuat maksiat!

4. Usir aja malaikat penanya kubur. Jadi, jangan biarkan mereka bertanya apapun sehingga maksiat sesuka hati itu tak dicatat dan bakal aman-aman aja sampai akhirat nanti!”

Satu hal, itu lah kodrat ‘lebah’ punya insting kuat ‘menyengat’, selain hobi ngantup itu, juga pada ‘bunga’ merekah tersimpan kelezatan ‘manis’ yang luar biasa, cocok sebagai obat ‘hidup’nya sang ‘lebah’, inilah simbiosis.  Begitu juga tak kalah menariknya dengan hubungan saling membutuhkan satu sama lain, misal antara manusia ‘Teknik Elektro’ dengan ‘Teknik sipil’, dimana sang ‘Elektro’ asik membuat bom rakitan tercanggih, sedang sang ‘Sipil’ asik membuat bangunan megah. Inilah mutualisme antara ‘pembuat senjata’ dengan ‘pembuat sasaran bidik’…

Setelah kita pamitan dengan ibu paruh baya yang kita tamui tadi, dalam perjalanan pulang, rekan ku kembali bertanya sebagai closing jumpa kita, “kenapa ya manusia sekarang sudah tidak takut dosa, tidak takut dengan neraka, tidak takut murka Tuhan??

Sambil bersalaman tanda berpisah, ku titipkan PR untuknya “jawabannya, tanyakan aja sama manusia yang bisa tanya seperti itu, tapi dia tetap aja hobi rutin bermaksiat?!

Entah dia merasa tersindir atau tidak dengan PR ku tadi, tapi yang jelas ku pun ikut tertampar dengan hal itu! Hingga akhirnya ku tutup hari dengan bersimpuh pada Yang membuat malam tadi dingin, dalam membaranya dosa ku, dan siang ini panas, dalam bekunya amal ku!

Ampun…

Lindungi kami Ya Alloh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s