Maksiat yuk… (lanjutan)

Posted: April 16, 2011 in Refleksi dua

Sore ini cerah sekali, sudah pukul 17.00 WIB seperti masih siang saja kelihatannya. Memang, tadi siang awan sempat menghitamkan diri. Seperti sekitaran mata ku yang agak hitam tipis karena semalaman ku belum mematikan diri, maka hari ini ku harus lebih berhati-hati. Malah saking hati-hatinya, sampe handphone pun tertinggal. Ya mungkin kalo beneran jadi kebawa, bisa saja jatuh sembarang tempat atawa keinjak mobil.

Begitu pulang, ternyata rekan kongkow bareng ku semalam, tadi ngirim pesan singkat, “Assalamualaikum habib.. mohon maaf sangat, janjiku diundur, ku tetap masih hutang, doakan umur panjang utk penuhinya. Krn mendadak ada tugas luar kota.maklum stad, resiko jadi jongos kantoran ya gini” ,begitu bunyinya. Soalnya dia berjanji mau nraktir buka bersama sore ini.

Belum sempat ku balas, dia kembali sms “assalamualaikum, ku minta tolong bib, semalem kita kan bahas tema maksiat, mohon kirim ku email ke *** tentang tema tsb dari ‘sudut lain’,sebagai bahan improve, soal ku ada ngisi kultum. Terimakasih jazakallohu khorion

Ya sudah, daripada gitu aja kok repot, dan namanya juga pesan singkat, maka ku pun bales singkat, dengan “insya Allah”. Lalu langsung mulai ku tulis tentang tema yang dia minta lewat surat elektronik itu.

Sengaja tanpa ku beri judul, toh dia sendiri yang bilang cuma dipake untuk improve-nya.

Tanpa basa-basi, permulaan langsung ku beri QS. An-Nisa’:123

“(pahala dari Allah) itu bukan menurut angan-angan kosong kalian dan tidak pula menurut angan-angan Ahlul Kitab. Siapa saja mengerjakan kejahatan, niscaya ia dibalas karena kejahatannya itu.”

Ayat itu dianggap sebagian sahabat, sebagai ayat yang paling berat di dalam qur’an. (HR Ibn Jarir & Abu Daud). Ku sendiri menganggap ayat ini sebagai ayat yang paling menakutkan bagi manusia mukmin & membuat bulu romanya berdiri.

Dalam timbangan keadilan, tidak hanya mengenai seseorang, setinggi apapun martabatnya. Ya tapi jangan samakan dengan yang namanya ‘peradilan’ di Indonesia Raya ini.

Bal’am bin Baura’ sangat menyadari nama terbesar Alloh. Namun ketika ia bermaksiat pada-Nya, maka ia seperti guguk (anjing). Jika kamu bawa ia menjulurkan lidahnya, & jika kamu biarkan ia juga tetap menjulurkanlidahnya.

Maksiat & dosa adalah sumber malapetaka. Petaka terjadi, bisa hilang karna tobat. Seorang syaikh mengitari salah satu majlis. Lalu berkata “siapa ingin selalu dalam keadaan sehat, ia harus selalu bertakwa kepada Alloh

Dalam hadits nabi terungkap;

sesungguhnya seorang hamba bisa terhalang mendapatkan rezeki karna dosa yang dilakukannya” (HR Ibn Majah & Ahmad)

Seorang generasi salaf berkata “aku pernah menganggap sepele sesuap makanan, lalu aku memakannya. Sekarang, aku kembali ke belakang seperti empat puluh tahun yang lalu

Pernah sandal Abu Utsman an-Nisaburi putus dalam perjalanan sholat jumat, ia butuh waktu satu jam untuk memperbaikinya. Lalu ia berkata “sandal ini putus karena aku tidak mandi hari jumat

Asal tau, kadang hukuman itu berupa hukuman moral. Misal manusia tergoda makan makanan syubhat, akibatnya, hatinyagelap; ia pun tidak bisa mengerjakan sholat malam & bermunajat pada Alloh. Itulah sering kita sepele kan.

Diriwayatkan seorang rahib bani Israel pernah bermimpi bertemu Alloh, ia berkata “Tuhan ku, aku bermaksiat kepada-Mu, tetapi Engkau tak pernah menghukumku” Alloh lalu berfirman “Aku sudah menghukummu, tetapi kamu tidak tau. Bukankah Aku telah membuatmu tidak lagi dapat bermunajat kepada-Ku dengan manis?!

Abu Darda pernah berkata “jika seorang hamba bermaksiat kepada Alloh saat sendirian, Alloh membuatnya dibenci kaum mukmin tanpa ia sadari

Imam Ibnu al-Qayyim meringkas efek maksiat dalam kitab al-Fawa’id, dengan indah ia berkata “diantara efek maksiat adalah pelakunya tidak banyak mendapat hidayah; pikirannya kacau; ia tidak melihat kebenaran dengan jelas; batinnya rusak,daya ingat lemah, waktunya hilang sia-sia; dibenci manusia, hubungan dengan Alloh renggang, doa tak terkabul, hatinya keras, keberkahan rezeki & umurnya pun musnah; diharamkan mendapat ilmu, hina, dihinakan musuh; dadanya sesak; diuji dengan teman-teman jahat yang merusak hati & menyia-nyiakan waktu; cemas berkepanjangan, sumber rezekinya seret; hatinya terguncang. Maksiat dan lalai membuat manusia tidak bisa berzikir kepada Alloh, sebagaimana tanaman tumbuh karena air, dan kebakaran terjadi karena api.

Kemudian pernah ditanyakan kepada seorang generasi salaf “apakah pelaku maksiat itu dapat merasakan manisnya ketaatan?” lalu orang salaf itu menjawab “tidak. Orang yang bermaksiat juga tidak merasakannya

Ibnu al-Jauzi dalam Shayd al-Khathir berkata “siapa saja yang merenungkan kehinaan saudara nabi Yusuf ketika mereka berkata “bersedekahlah kepada kami’ maka ia tahu betapa dosa itu menghinakan pelakunya, kendati mereka telah bertobat. Sebab, orang yang pakaiannya tambalan tidak sama dengan orang yang pakaiannya utuh. Tulang yang pernah patah tidak dapat pulih seperti sedia kala. Kalaupun pulih, tulang tersebut lemah

Karena itu, hendaknya kamu mewaspadai dan menjahui dosa yang sering cuma disepelekan. Sebab, dosa bisa membakar satu Negara. Hai manusia pendosa yang berkali-kali, coba pikirkan apa yang membuat mu itu berdosa??

QS al-Anfal :25

“peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja diantara kalian. Ketahuilah oleh kalian bahwa Alloh itu amat keras siksa-Nya.”

Jika kita menelaah Perang Uhud, kita akan menemukan bahwa sebab kekalahan kaum muslim didalamnya ialah perilaku indisipliner sebagian pasukan pemanah, yang jumlah mereka tidak mencapai 4% dari total pasukan. Lalu apa coba akibat kemaksiatan mereka? Akibatnya 70 orang sahabat terbunuh; perut mereka dibelah; hidung & telinga mereka dipotong-potong; Rosululloh sendiri terluka, wajah beliau tergores, dan gigi antara gigi seri dan taring rontok.

Akan tetapi (QS Ali Imran :152)

“sesungguhnya Alloh telah memaafkan kalian”

Seseorang berkata pada Hasan al-Bashri “bagaimana Alloh memaafkan para pemanah, padahal 70 sahabat terbunuh?” Hasan pun menjawab “sekiranya Alloh tidak memaafkan mereka, tentu Dia menghabisi mereka semua

Semua itu merupakan akibat dampak buruk kmaksiatan (QS Ali Imran :165)

“mengapa ketika kalian ditimpa musibah (dalam perang Uhud), padahal kalian telah menimpakan kekalahan dua kali lipat terhadap musuh-musuh kalian (dalam perang Badar) kalian berkata “darimana datangnya (kekalahan) ini?” katakana, “itu adalah dari diri kalian sendiri.”

QS Ali Imran :152

“pada saat kalian lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rosul) sesudah Alloh memperlihatkan kepada kalian apa yang kalian sukai.”

Masalah ini juga terlihat jelas di perang Hunain. Awalnya kaum muslim kalah, akibat sebagian dari mereka bangga dengan jumlah pasukan dan senjata, serta lupa kalau kemenangan pertama yang mereka raih itu datangnya dari Alloh. Orang-orang yang bangga dengan jumlah pasukan dan senjata ketika itu adalah mereka yang baru masuk islam. Seorang dari mereka berkata “hari ini kita tidak kalah oleh pasukan yang jumlah tentaranya sedikit

Akibat ujub (QS at-Taubah :25)

“(ingatlah) perang Hunain, yaitu saat kalian congkak karena banyaknya jumlah kalian. Lalu jumlah yang banyak itu tidak memberikan manfaat kepada kalian sedikit pun dan bumi yang luas itu terasa sempit oleh kalian, kemudian kalian lari ke belakang dengan bercerai-berai.”

Sebelum mengakhiri improve tentang kemaksiatan ini, ku ingin menggarisbawahi satu realitas penting, yakni bahwa kemaksiatan yang dimaksud ini bukan cuma maksiat yang nampak kasatmata, tapi termasuk kemaksiatan batinyang tidak terlihat.bahkan semisal riya, ujub, dengki, ambisi jabatan, sombong, lebih berbahaya dari maksiat yang Nampak. Sebab, sesuatu yang ghoib, tidak terlihat, analog seperti kanker; ia bisa menyebar secara cepat dalam tubuh dan menghancurkannya tanpa rasa sakit sehingga tidak dirasakan oleh manusia yang bersangkutan atau orang sekitar, terkecuali setelah beberapa waktu saat dokter sudah angkat tangan dengan stadiumnya, hingga obat pun tak bermanfaat lagi.

Qiyadah-nya harus membersihkan hati mereka dan semaksimal mungkinbersih-bersih kerja bakti dilakukan. Sadari bahwa sesuai dengan ilmu sastra teknik yang ku dapat di maintenance, tindakan prefentif itu lebih baik daripada tindakan kuratif alias mencegah lebih baik daripada mengobati, dan tentu dari statistic ekonomi yang ku dapat pula, bahwa sedikit harga untuk biaya prefentif juga lebih baik daripada berlipat-lipat harga untuk biaya kuratif.

Karena sudah ku anggap lebih dari cukup untuk bahan kultumnya, entah apa kepanjangan kultum itu, kuliah tujuh menit kah, atau tujuh minggu, terserahlah. Ku berikan penutup dengan gembok dan kuncinya langsung.

Kata Umar bin al-Khaththab “sesungguhnya jika kita tidak mengalahkan musuh dengan ketaatan kiat (kepada Alloh), merekalah yang menaklukan kita dengan kekuatan mereka

Lalu janji Alloh (QS al-Hajj :40)

“sesungguhnya Alloh pasti menolong siapa saja yang menolong (agama)-Nya.”

Sahabat Rosululloh, Abdullah bin Rawahah pernah bertutur “kita memerangi manusia bukan dengan senjata, kekuatan dan pasukan yang berjumlah besar, namun kita memerangi mereka dengan agama yang dengan itulah Alloh memuliakan kita” (HR Ibnu Ishaq)

Dan yang paling bontot ku ingatkan ialah sabda Rosululloh

agama adalah nasihat” (HR Muslim, Abu Dawud, an-Nasa’i & Ahmad)

Sama seperti teriakan dari muadzin yang mengumandangkan nasihat untuk ku ketika ku coba send, untuk menyegerakan basahi tenggorokan ku, dan saatnya kembali ambil air mujarab untuk bersuci dari maksiat sebelumnya. Usai bersujud pun, cita-citaku masih sama, tetap semaksimalmungkin, suci dari segala maksiat.

Ampun …

Lindungi kami Ya Alloh

Komentar
  1. نور عزيزة mengatakan:

    assalamu’alaikum,,,
    ikut nyimak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s