Maksiat…yuk CLOSING !!!!!!!!!!!!

Posted: April 16, 2011 in Refleksi dua

Afwan…

Bila Anda berkenan, saya ingin memberikan pandangan yang menarik, apa-apa yang terjadi terutama di Indonesia Raya tercinta. Ini bermula dari sebuah pertanyaan krusial yang saya pernah ungkapkan sekitar 3 tahun yang lalu, sbb:

“Banyak pejabat/haji/orang penting/tokoh/pengusaha dll, yang “tahu” sesuatu itu berdosa, tapi mengapa masih mereka lakukan juga?” (korupsi, mementingkan diri sendiri, mark-up harga, tender diatur shg merugikan Negara, minta komisi proyek dan ribuan “maksiat” lain)
Inilah di antaranya yang membuat HANCUR Negara ini.

Na’udzubillah !

Ada fenomena apa ini?
Apakah yang “keliru” al Qur’an?
Apakah agama ini “tidak” cocok lagi di jaman modern ini?
Apakah manusianya yang keliru, tapi kok mengapa banyak orang yang melakukan hal ini?
Iki kenopo mas, aku ora mudeng!
What happend to Muslim people?
Warum die leute mach MAKSIAT“

Pertanyaan ini baru terjawab setelah saya mengamalkan dzikrullah cukup lama. Dan baru sempat saya jadikan prasasti sekarang ini…

Konon ada “prosedur“ untuk mencapai ma’rifat yang disarankan para ahli tasawuf, yaitu urutan-urutan syariat, tarekat, hakekat dan ma’rifat.
Dimulai dengan mengetahui syariat Islam, lalu mengamalkan tarekat, sehingga mendapatkan hakekat (esensi alam “semesta“ dan “ketuhanan“) dan akhirnya ma’rifat (mengenal Tuhan).

Semula saya belum 100% yakin, apakah benar-benar mengikuti 4 prosedur yang panjang dan memakan waktu yang lama tersebut saya sampai kepada ma’rifat? Apakah tidak bisa hanya “short cut“ dengan baca-baca Al Qur’an, Al Hadist, dan bertanya pada ahlinya/kaum ulama  toh bisa “copy paste“, serta mengikuti pesantren ”kilat”/pelatihan keagamaan 1-2 hari saja?

Tapi mungkin betul juga kata sufi ini. Buktinya saya pribadi. Walaupun sering baca Qur’an/Hadist dan belajar agama sejak kecil, mengikuti pengajian-pengajian, tetap juga ”hati” saya belum banyak berubah.

Pengamalan tarekat secara praktisnya sebenarnya hanyalah dzikir, kata seorang sufi. Simple bukan? That’s all. Karena simple-nya ini, maka berbagai buku tasawuf yang ”tebal-tebal” saya ”buang jauh-jauh”, mulailah saya belajar berdzikir.

Ketika engkau sudah saatnya nanti, Allah akan memberikan jawabanNYA. Dan engkau akan diberikan ilmu langsung dariNYA”, demikian kita-kita lanjut kata-kata sufi ini. Sebagian orang mengatakan ”ilmu laduni”. Bagi saya, “what ever the name, the importance point is, Allah gives us an enlighment to make us more more closer to Allah

Setelah tahunan berdzikir, saya menemukan jawaban pertanyaan krusial diatas yang akan saya uraikan agak panjang sbb. Saya yakin di antara Anda juga mempunyai pendapat yang lain. Satu hal bahwa, setelah berdzikir cukup lama, paling tidak semoga ”uraian ini datangnya berasal dari pencerahan Allah”.

Paling tidak, bagi anda yang mampu ”menyadarinya”, tidak perlu ”capek-capek” duduk berdzikir kelamaan, tapi….. Kan Anda lebih untung, lebih enak to…

Yuk mari kita simak sama-sama……

Saya ambil sample, Ingatkah ketika kita ber-haji? Ya paling tidak yang belum, Anda bayangkan cita-cita itu. Sungguh nikmat, bahagia, khusyu’ dan rasanya doa terkabul, dosa diampuni dll.. Begitu melakukan kebaikan, langsung saja Allah balas KONTAN. Melakukan ”maksiat” (bertengkar, berpikir negatif dkk..) Allah pun balas kontan juga…

Seolah-olah Allah bersabda:Wahai manusia, inilah yang sebenarnya kehidupan di Surga. Berbuatlah kebaikan di dunia, AKU balas kebaikanMU. Kalau engkau berbuat maksiat, saksikanlah azabKU sangat pedih.. Ambillah pelajaran dari berhaji, supaya kamu jadi orang bertakwa” (Ya, Allah ampunilah dosa saya kalau saya keliru…Astaghfirullah…..)

Pertanyaan lagi:

Mengapa ketika kita kembali ke tanah air, ’kejadian’ di Mekkah ini ”TIDAK TERJADI” lagi?
Kalau kita sedikit berpikir, ada jawaban seperti ini :” Ya, jelas aja… Mekkah adalah tempat yang Allah sucikan…

Dikejar lagi dengan pertanyaan, ”Apakah mungkin, membawa ’kesucian’ Mekkah ini ke Indonesia Raya, bahkan ke mesjid kita dan bahkan di rumah serta sekolah/kantor kita?”

Saya jawab : YES ! …… Lalu caranya gimana bib?

OK, kita lanjut pada uraian saya berikut ini……

Saya pernah berdiskusi dengan seorang rekan seperti ini:

Saya tanya: ”Menurut anda, Qur’an itu milik siapa sih?”
”Ya milik Allah donk!”, jawab rekan saya dengan sedikit meremehkan saya.
OK, sepakat”. ”Qur’an menurut Anda, apa fungsinya?
Ya sebagai petunjuk, pembeda, muamalah, syariat dll
Lalu, setelah milik Allah, milik siapa lagi”, tanya saya.
Ya, milik Nabi, Rasul dan menjadi milik kita umat Muhammad ini”. ”Gitu aja kok ditanyakan….
Apa tanda atau bukti kalau memang benar-benar milik manusia dan termasuk saya dan Anda”
Ya, Al Qur’an kan maha benar, untuk apa kita tanya lagi? Manusia kan makhluk Allah, pastilah Qur’an menjadi milik manusia juga…..”

Baik, mari kita buka mata, buka hati, dan kita sedikit telaah pelan-pelan saja…

Qur’an milik Allah, diturunkan kepada nabi Muhammad Saw, artinya ’ayat-ayat Qur’an VALID bagi nabi’. ’Ada yang mengatakan, Rasul adalah Qur’an yang berjalan, dsb’. Arti VALID, adalah ’berlaku’ bagi diri Rasulullah.
Qur’an bukan hanya sekedar teori yang berupa beberapa jilid kertas, bukan lagi cerita, tetapi sudah menjadi realita dalam kehidupan seseorang.
Kalau hanya cerita, knowledge; so apa beda orang muslim dan non-muslim yang sama-sama membaca Qur’an hayooooo…..?! Apa bukti atau tanda kalau Rasulullah adalah rahmatan lil ’alamin dengan Qur’an dan Hadistnya?

Misalnya dikatakan di Qur’an kalau dikatakan berbuat kebaikan, maka akan ada balasan kebaikan dan pahala. Kalau melakukan maksiat/kejahatan ada azab. Dan sebagainya. Inilah indikasi bahwa Rasul adalah ’on Allah track’, dalam ’jalur’ Allah. Kalau tidak dalam jalur Allah, lalu jalur siapa? Ya, iblis lah…..Tidak ada jalur diantaranya…..

Jadi, kalau orang-orang yang melakukan dosa itu ada di jalur siapa?

Ya….Anda tahu jawabannya…..Jalur iblis. Kasihan deh loe……”

Seketika rekan saya tadi terdiam….. Teringat selama ini ”azab” sangat jarang Allah turunkan, padahal bisnis rekan ini cukup banyak maksiatnya.

Alangkah sia-sianya usaha mendekat Tuhan selama ini….. Jalan di jalur IBLIS!
Hidup seadanya, terbawa arus masyarakat yang banyak “maksiat”nya….

”Saiki jaman edan
Yen ora edan, ora keduman”  Waduh, waduh, waduh …………..

Mujahadah & istikhomah haruslah kita tingkatkan bila kita mau serius menuju jalan Tuhan. Kita bersihkan nafs kita sehingga ketika kita pulang nanti Allah berseru dalam Al Fajr 27-30, ayat tersebut VALID bagi kita:

Wahai nafs/jiwa yang tenang, kembalilah kepadaKU dengan ridho dan AKU ridhoi, masuklah dalam golonganKU, dan masuklah dalam surgaKU”.

(Kalau ayat ini tidak VALID, kira-kira kemana rohani kita ketika meninggal? Melayang dimana? Ke alam barzah yang penuh dengan derita dan kesulitan? Allahu ’alam….)

”Jadi, para pemimpin kita, pegawai negeri,pajak, pengusaha, direksi, dan bahkan orang-orang DepAg yang ketahuan me-nilep uang yang seharusnya milik umat itu, dan bahkan para Pejabat yang korup itu tidak dalam jalur Allah, tapi di jalur Iblis kan bib?”, tanya rekan saya ini.

”Ya, kalau kita ikuti yang tadi kita bicarakan, Anda bisa ambil kesimpulan sendiri seperti itu kan?”, jawab saya.

Wah..wah…wah…, pantas Indonesia Raya ini selalu dalam laknat Allah, banyak bencana, ekonomi morat-marit, akhlak makin hancur……”, kata teman saya setengah geram dan masygul, sepertinya tidak tahu apa yang harus diperbuat untuk memperbaiki negara ini…..

Ya, dunia ini adalah ’komputer’-nya Allah, semua serba pasti/eksak, tidak ada sesuatu yang kebetulan, semuanya mengikuti sunnatullah. Tidak ada yang terjadi tanpa sebab yang jelas. Allah maha teliti….Subhanallah…. Allahu Akbar…..”, kata saya menutup pembicaraan.

Menurut saya, apabila kita melakukan ”maksiat”, tidaklah cukup hanya dengan taubatan nasuha saja, tetapi harus ditambah kebaikan (energi positif lain) serta pembersihan jiwa – tadzkiyyatun nafs. (Caranya gimana yaa?)

Setiap sesuatu ada pembersihnya, dan pembersih nafs adalah dzikrullah”, sabda Rasulullah suatu ketika.

Law Of Attraction ISLAMI (LOIS) yang berhubungan dengan Dzikir ini menurut saya adalah Al Baqarah 152 :

Fadzkuruni adzkurkum……..” (Karena itu ingat, sadar penuhlah kamu kepada-KU niscaya AKU akan ingat, sadar penuh pula kepadamu, bersyukurlah dan jangan engkau ingkari akan turunnya nikmatKU kepadamu”).

Konon, saat itu turunlah Jibril kepada Rasulullah, dia berkata:

Wahai Rasullulah, akan aku turunkan sebuah ayat yang belum pernah Allah turunkan sejak nabi Adam”.
”Apa itu ya Jibril?”
Fadzkuruni adzkurkum……..”

Ingat disini berarti juga dzikir menyebut nama Allah, nanti kalau dzikir kita tepat dan sampai di hadirat Allah, maka Allah akan kembali ber’dzikir’ kepada kita.

Ayat ini sangat fokus, yaitu dimulai dengan dzikir kita dulu, baru Allah ber’dzikir’ kepada kita, mudah bukan?

Kita “menarik energi” Allah dengan dzikir yang kita laksanakan, Allah akan membalas dzikir (memberikan energiNYA yang sangat dahsyat) ke diri kita.

Bukankah ini adalah LOIS terhadap Allah?

Benarlah kata seorang sufi :”Engkau dzikir banyak-banyak sajalah, Allah akan memberikan jalan dan rahmat kepadamu.

Kata-kata sufi yang mukhlisin bukan sekedar kata-kata biasa, tetapi penuh dengan kebenaran dan hikmah. Seorang sufi yang kamil, pasti mengeluarkan kata-kata yang VALID bagi dirinya. Saya pun baru tahu hal ini setelah seorang sufi mengatakannya puluhan tahun yang lalu, bahwa kita harus banyak-banyak berdzikir. Ilmu hakekat akan sulit kita dapatkan kalau kita tidak banyak-banyak melaksanakan dzikrullah. Semoga kita dipertemukan kepada sufi yang demikian..

Wallahu ‘alam bish-shawab…

Pembaca, maafkan saya kalau ada kata-kata yang kurang tepat, meskipun saya sengaja….

Ya Allah, berikanlah kami semua, para hambaMU ini jalan dan tuntunan dalam berdzikir kepadaMU….
Ya Rahman, Ya Rahim, hanya ENGKAUlah tujuanku dan ridhoMU semata yang aku cari.

Ampun…

Lindungi kami Ya Allah

Aamiin !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s